Antara Pure Saturday dan Salegasm di Supermal Karawaci - Three On Speed Antara Pure Saturday dan Salegasm di Supermal Karawaci - Three On Speed

728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sunday, December 9, 2012

    Antara Pure Saturday dan Salegasm di Supermal Karawaci



    Foto: Dokumentasi Pure Saturday
     
    Agak aneh rasanya menonton acara musik yang digelar di dalam mall. Ditambah lagi jika acara musik itu digelar bukan sebagai acara utama, melainkan sebagai acara pendukung promosi suatu program perbelanjaan. Sudah bisa ditebak, acara musik tersebut pastinya hanya sebatas  musik pengiring belanja bagi para kelas menengah yang lebih antusias hilir mudik mengamati barang diskon ketimbang mengamati jenis efek apa yang dipakai oleh gitaris di acara musik tersebut. Maaf, acara musik pengiring belanja maksud saya.

    Band pop legendaris asal Bandung, Pure Saturday menjadi salah satu band yang terpilih untuk merasakan suasana tersebut pada Jumat (7/12) lalu di Supermal Karawaci, Tangerang. Sebelumnya, saya sempat beberapa kali menghitung kancing kemeja saya sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan beberapa teman saya untuk melihat penampilan mereka. Saya memang agak malas menonton acara musik yang diadakan di dalam mall karena alasan yang telah saya sebutkan sebelumnya.

    Namun, ada dua hal yang pada akhirnya mendorong saya untuk berangkat ke mall tersebut. Pertama, saya belum pernah menonton Pure Saturday di era Grey, album terbaru mereka yang dirilis 7 bulan lalu. Bisa dibilang, ini adalah kesempatan saya untuk menyaksikan mereka membawakan sejumlah lagu dari Grey. Kedua, Pure Saturday adalah salah satu band yang selalu masuk dalam playlist saya setiap selesai menjalani rutinitas kampus. Dan setelah lima hari bergelut dengan segala titah dosen, Pure Saturday saya rasa adalah solusi yang tepat untuk mengakhiri kesibukan minggu ini sambil bersiap mengucapkan halo pada akhir pekan.

    Acara bertemakan Salegasm: Super Midnight Sale tersebut dimulai sekitar jam 8 malam. Pertunjukan musiknya sendiri dijadwalkan mulai pukul 21.00. Tapi saya rasa mereka melakukan kesalahan cetak pada bagian penulisan rundown acara musik. Masalahnya, acara musiknya sendiri baru benar-benar mulai sekitar pukul 22.00. Ditambah lagi, saya baru menyadari ternyata Pure Saturday tidak langsung main begitu acara dimulai. Akan ada Violet yang tampil sebelum Pure Saturday. Baiklah, mereka cukup pintar melatih kesabaran saya.

    Sembari menunggu, saya mencoba googling terkait Violet. Saya memang sedikit penasaran, band seperti apa mereka hingga didaulat untuk sepanggung dengan Pure Saturday. Saya sempat berfikir, apakah Violet yang satu ini masih ada kaitannya dengan Pasha, Endah atau Oncy? Dan hasil pencarian tersebut membawa saya ke situs Kla Corporation, sebuah promotor event sekaligus manajemen artis yang dibentuk oleh para personil Kla Project. Rupanya Violet ini diproduseri dan dibimbing langsung oleh Katon Bagaskara. Tak lama setelah membaca fakta tersebut, kedua MC yang sejak awal gagal menghilangkan rasa bosan saya akhirnya mempersilahkan Violet naik ke atas panggung. Kemudian muncullah tiga orang wanita cantik dengan pakaian serba hitam sambil membawa biola ke atas panggung. Sebelumnya saya sempat menduga bahwa mereka akan berkostum serba ungu, mengingat nama mereka yang identik dengan warna tersebut. Tak masalah, dari sudut pandang pria normal mereka akan selalu terlihat menarik mengenakan pakaian apapun.

    Violet membuka penampilannya dengan sebuah lagu instrumental tipikal orkestra. Tidak terlalu buruk sebenarnya, tapi juga tidak berhasil membuat saya tertarik. Di lagu kedua mereka seperti ingin menunjukkan kemampuan mereka selain bermain biola, yaitu olah vokal. Mereka cukup baik dalam pembagian suara, namun sayangnya telinga saya memang tidak berjodoh dengan mereka, meski  mata ini senantiasa mengharapkan jodoh dengan personil Violet siapapun itu. Apa boleh buat, rupanya telinga saya lebih pandai merayu saya untuk memilih merokok di smoking area sambil menunggu penampilan Pure Saturday, dibanding menuruti keinginan mata yang masih ingin menikmati penampilan tiga orang wanita tersebut. Setidaknya, merokok bersama teman-teman saya sambil mendiskusikan lagu apa yang kira-kira akan dibawakan Pure Saturday masih lebih menarik ketimbang menyaksikan tiga orang wanita yang bermain biola sambil menyanyi dengan sedikit selingan koreografi.

    Belum juga sempat menghabiskan sebatang rokok, salah seorang teman saya yang masih setia menunggu di depan stage menelepon untuk segera masuk karena lima orang yang kami tunggu sudah naik ke atas panggung. Dengan langkah yang sedikit cepat, kami segera menuju stage dan menemukan Iyo tengah menyanyikan lagu yang paling saya tunggu, ‘Lighthouse’ dari album terbaru mereka, Grey. Jenius! Mereka benar-benar mengerti bagaimana seharusnya sebuah band mengawali performance. Akhirnya kenginan saya melihat materi brilian dari Grey secara live terwujud juga. Kemudian ‘Lighthouse’ membawa saya ke sebuah pengharapan dimana akan ada materi-materi dari Grey yang mereka bawakan setelah ini. Di lagu kedua, harapan saya belum terpenuhi karena mereka lebih memilih memainkan ‘Elora’ setelah Iyo bertanya ke penonton, “Mau lagu apa lagi nih?” Tak apalah, karena lagu ini masih berhasil membuat saya larut ke dalam koor bersama penonton lainnya yang memang datang ke tempat itu karena benar-benar ingin menonton Pure Saturday, bukan berbelanja.

    Saya masih berharap Iyo, Ade, Arief, Adhi, dan Udhi akan membawakan karya-karya lain dari Grey. Kalau boleh berharap lebih, saya menantikan mereka membawakan ‘Albatross’ yang elegan. Namun dari lagu ketiga hingga lagu kelima, mereka berturut-turut membawakan nomor klasik mereka seperti, ‘Pathetic Waltz’, ‘Gala’, hingga ‘Spoken’. Untungnya kelima pria ini pandai memainkan kejutan. Pada bulan Maret lalu mereka melakukan kejutan itu dengan memainkan ‘Don’t Look Back In Anger’ milik Oasis di gelaran 2nd Music Gallery. Kali ini mereka menghadirkan kejutan itu di lagu keenam dengan membawakan single ternama milik Morrissey, ‘The More You Ignore Me, The Closer I Get” hingga membuat penonton menjelma menjadi suatu kumpulan kelompok paduan suara tanpa perlu latihan intensif sebelumnya.

    Sorak sorai penonton semakin tak terbendung ketika mereka melanjutkan dengan ‘Desire’, sebuah lagu klasik yang tak pernah gagal membuat saya ikut bernyanyi setiap lagu ini dibawakan. Dilanjutkan dengan ‘Coklat’, lagu yang mengekspresikan bentuk kekecewaan mereka pada aparat kepolisian. Pure Saturday menutup penampilannya dengan single legendaris mereka, ‘Kosong’ yang sekaligus memupuskan harapan saya untuk mendengar lagu lain dari album Grey. Dari total sembilan lagu yang dibawakan, hanya ‘Lighthouse’ yang berasal dari album tersebut. Apa boleh buat, mungkin di lain kesempatan saya lebih berjodoh.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    threeonspeed.com/search/label/news

    Post a Comment

    Item Reviewed: Antara Pure Saturday dan Salegasm di Supermal Karawaci Rating: 5 Reviewed By: Three On speed
    Scroll to Top