E-min: Beranjak Dari Tidur Buasnya - Three On Speed E-min: Beranjak Dari Tidur Buasnya - Three On Speed

728x90 AdSpace

  • Latest News

    Saturday, February 23, 2013

    E-min: Beranjak Dari Tidur Buasnya



    Syukurlah, masih ada yang memainkan musik folk ‘60an di Indonesia. Setelah diselamatkan oleh folk revival era Orde Baru Iwan Fals, nama-nama lain mulai bermunculan. Kita kenal Ebiet, Oppie, Deugalih and Folks, Nedink, Backwood Sun, AngsaSerigala, Afternoon Talk, The Trees and The Wild, Rusa Militant, Silampukau, Stars And Rabbit, The Wispy Hummers, Vox, Greats sampai dengan Payung Teduh yang menyisipkan balutan-balutan sub-folk. Tapi satu yang kemudian muncul sebagai sang juru selamat baru menurut saya, yaitu Dialog Dini Hari yang mengusung folk sarat makna nan apik membawa generasi folk lokal ke era kekinian yang dikemas secara jujur dan pasti. Iwan Fals dan Dialog Dini Hari buat saya seperti musik membawa kultur pada masanya.

    Regenerasi dari musik yang menyuguhkan  rama-irama nuansa matahari sore dengan lirik yang membuat pendengarnya ingin bernyanyi bersama sembari membayangkan senja sederhana sepulang kerja. Lika liku laki-laki, politik omong kosong dan berbagai hal yang mungkin lebih sederhana dari sekedar makan kacang di pinggiran rel kereta dengan segelas minuman penghangat suasana. Kadang ada sedikit cinta dalam tutur kata duplikasi seorang sastrawan muda gila bahasa. Tapi, era generasi mie yang menjadi benalu di negeri sendiri membuat sebuah karya patut mempunyai sesuatu yang lebih dari kemasan luarnya saja. Entah itu apa namanya, folk saat ini tidak bisa kita bandingkan dengan era sebelumnya, begitu juga sebaliknya. Dunia hiburan selalu punya orang-orang baru dengan gayanya masing-masing. Begitupun dengan musik folk, agak kuno tapi tidak kekinian masih menjadi minat di telinga beberapa penikmat folk lokal. Ah sudahlah, penilaian kembali ke personal, hukum rimba ditegakkan.

    #GodSaveTheFolk merupakan tagar yang sangat pas untuk Ahmad Emin, lebih akrab dengan sapaan E-min. Sosok pria berumur 27 tahun yang berasal dari kota Jakarta ini mengingatkan saya akan Philip Moore dengan rambut pendek dan brewok ala kadarnya. Video live 'Tuan Penganggur' yang diunggah di youtube adalah lagu pertama yang saya dengar. Judul 'Tuan Penganggur' ini sempat membuat lengkung senyum di wajah saya, karena ada dua hal yang terbesit dipikiran saya saat itu. Pertama adalah E-min benar-benar nganggur. Yang kedua, E-min adalah teman minum anggurnya Sir Dandy.

    Membuat mini album berisikan tiga buah lagu yang ia pasang di halaman soundcloudnya merupakan langkah awal yang mungkin ia pilih untuk menyebarluaskan karyanya secara gratis selain membuat rilisan fisik. “Jingga tidak akan berdusta” ya, begitu juga musik yang E-min sajikan. Track pertama seperti memberi isyarat akan pertanyaan yang ada di benak saya ketika bertanya-tanya folk seperti apa yang ia bawakan. Jingga dan Senja adalah jawabannya. Gitar dan harmonika menjadi senjata utama E-min sebagai seorang One Man Show.


    Damn!!! He’s not Dylan, he’s E-min!

    Pelangi adalah konotasi paling indah untuk menggambarkan sebuah rumah huni. Track berjudul 'Rumah Pelangi', semoga mampu membuat anda selalu punya alasan untuk ingat akan rumah pelangi anda sendiri. Sembari bersandar pada dinding penuh coretan pribadi, E-min benar-benar membuat saya rindu rumah. Sekali lagi, folk tak pernah semerdu ini. Apakah saya berlebihan? Sepertinya lagu ini harus saya pamerkan kepada Peter, Paul and Mary.

    Tidak perlu mengeluh untuk mendengarkan sebuah lagu. Kamu hanya perlu S.E.M.A.N.G.A.T!! Oke saya terlalu bersemangat seperti lagu di track ini, demi menggapai mimpi saat pagi. Kali ini saya tidak bisa menampiknya lagi, telinga saya seakan ingin berteriak Dylan!!! Disana sini masih terdengar lick-lick yang menuntun mulut in berucap Dylan! Well, next! Track berjudul semangat merupakan lagu terakhir dengan soul dan song paling bersemangat dari kedua lagu sebelumnya. Sedikit mengingatkan kita dengan sang Maestro folk di negeri paman sam sana.. enough! Saya suka lagu ini. Easy listening dan pilihan kata yang mudah di hafal cukup jadi alasan saya untuk menari dan bernyanyi dengan E-min suatu hari nanti.

    Mungkin ini bukan saatnya bagi E-min untuk bermimpi, ini waktu baginya untuk berlari. Karena langit gelap kan berbintang.

    -Galung Isya Nukasvianta Dewa

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    threeonspeed.com/search/label/news

    Post a Comment

    Item Reviewed: E-min: Beranjak Dari Tidur Buasnya Rating: 5 Reviewed By: Three On speed
    Scroll to Top