Endah N Rhesa dan Escape: Akhir Petualangan Shane Harden - Three On Speed Endah N Rhesa dan Escape: Akhir Petualangan Shane Harden - Three On Speed

728x90 AdSpace

  • Latest News

    Wednesday, May 22, 2013

    Endah N Rhesa dan Escape: Akhir Petualangan Shane Harden

    Oleh: Argo Selig Saputro
    Udah beli albumnya belum?” Pertanyaan itu terlontar dari seorang wanita kelahiran 4 Mei 1983 bernama lengkap Endah Widiastuti di awal perbincangan kami. Ia terlihat masih bersemangat memperkenalkan album barunya, meskipun beberapa menit sebelumnya Ia bersama sang suami, Rhesa Aditya baru saja menyelesaikan performanya di acara Greenovation yang bertempat di Universitas Indonesia pada Rabu (8/5) lalu.

    Acara ini sendiri menandakan panggung pertama Endah N Rhesa paska rilis album terbarunya, Escape. Atau dengan kata lain, event ini merupakan unofficial album launch dari Escape. Bukan tanpa alasan jika disebutkan begitu, melihat adanya merchandise booth milik Endah N Rhesa yang terletak tak jauh dari panggung. Selain itu, di kesempatan ini pula untuk pertama kalinya Endah N Rhesa membawakan sejumlah materi dari Escape di atas panggung.

    Escape merupakan proyek terbaru mereka setelah sebelumnya sempat disibukkan oleh berbagai kegiatan. Salah satunya adalah saat Endah N Rhesa mewakili Indonesia di Midem Festival pada Januari lalu. Midem Festival sendiri ialah festival tahunan di Cannes, Prancis yang telah digelar sejak 1967. Endah N Rhesa mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung utama festival tersebut berkat memenangkan kompetisi yang diikuti lebih dari 300 musisi dari seluruh dunia.

    Setelah berbagai kegiatan tersebut, mereka akhirnya melepaskan Escape sebagai penutup dari trilogy yang telah dirancang lewat album terdahulunya. Sebelumnya, Endah N Rhesa telah melepaskan Nowhere To Go (repackaged) pada 2009 dan Look What We've Found pada 2010 lalu. Lalu bagaimanakah ending cerita dari trilogy ini sendiri? Berikut adalah perbincangan kami seputar album terbaru mereka. Tentang sound yang semakin gloomy, rahasia di balik karakter bernama Shane Harden, hingga buka-bukaan mereka soal alasan jarangnya berkolaborasi dengan musisi lain.


    Bagaimana konsep di album ketiga ini?
    Endah: Jadi memang dari awal kita membuat trilogy, dan ini adalah akhir dari tiga rangkaian cerita dari ketiga album yang kami buat.

    Rhesa: Konsep besarnya sebenarnya kita cari yang berhubungan sama teknologi dan cinta. Jadi konsep album ini sendiri adalah tentang teknologi dan cinta, karena kita beranggapan jika dua hal itu tidak dijalankan dengan baik akan membuat teknologi menjadi membabi buta. Seperti lagu ‘Silence Island’ yang kita bawain kan isinya tentang teknologi yang membabi buta sampai akhirnya Pulau Silence itu hancur.


    Di trilogy ini sendiri tiap artworknya saling berkaitan kan? Bisa diceritakan tentang artwork ini sendiri?
    Endah: Kalau di album pertama itu bisa dilihat ada sebuah pulau, di situ ada tokoh yang kita ciptakan namanya Shane Harden. Dia tokoh yang kita gunakan untuk menyambung dari album pertama hingga album ketiga.

    Rhesa: Betul, dan di album pertama si Shane Harden itu menjajah pulau tersebut. Nah, di album kedua dia kembali ke masa lalu menggunakan mesin waktu, kemudian di album ketiga dia pergi ke masa depan tapi dia melihat ternyata masa depan sudah hancur. Jadi dia menyiapkan strategi bagaimana untuk escape dari pulau itu.


    Bagaimana awalnya ide untuk menciptakan cerita lewat karakter bernama Shane Harden ini tercetus?
    Rhesa: Karena bagi kami musik saja tidak cukup, jadi kita pengen bikin cerita lewat artwork.

    Endah: Iya, Jadi kita pengen sesuatu yang nggak musiknya doang yang bercerita, tapi juga artwork. Dan sebenernya juga ini untuk membantu kami dalam mempersiapkan konsep sih. Dengan menciptakan satu tokoh dan membuat suatu cerita, kita jadi lebih mudah untuk membuat konsep. Jadi kalau kita udah ketemu satu tema atau suatu penokohan yang menarik, yaudah kita bisa bikin cerita yang banyak tentang itu, jadi lebih membantu kita sih.

    Rhesa: Shane Harden sendiri kalo dianagramkan jadi Endah N Rhesa. Sebenarnya Shane Harden menciptakan kita di pulau itu, jadi seolah-olah dia menceritakan temen-temennya. Di pulau itu ada Uncle Jim, Pirate, dan dia membuat tokoh Endah N Rhesa sebagai storyteller.


    Adakah pengaruh musikal dari musisi lain yang mempengaruhi proses pengerjaan album ini?
    Endah: Ada. Di album ini juga moodnya beda banget dari sebelumnya. Lebih gloomy.

    Rhesa: Sebelumnya kan kalau di album kedua konsepnya lebih ke hutan dan pantai, jadi kita banyak dengerin musisi-musisi Afrika. Sedangkan untuk album ketiga ini kita banyak dengerin musisi rock, progresif, british.

    Endah: Iya, contohnya kayak Yes, Pink Floyd. Nggak semua lagu kita pelajari juga sih, kita cuma mempelajari beberapa hal, kayak misalnya gue suka banget sama lirik-liriknya The Cure dan Silverchair. Gue suka The Cure banget. The Cure itu buat gua keren banget.


    Apakah sebelumnya ada riset dari buku atau film dalam proses kreatif di album ini?
    Rhesa: Kita belakangan ini menemui banyak film teknologi, jadi kita cari referensi ke situ juga, kayak gimana musiknya sih dan suasananya kayak apa sih di luar angkasa itu.

    Endah: Jadi kita itu setiap kali bikin album, begitu kita udah ketemu apa yang mau kita ceritain, kita langsung cari referensi  seputar itu. Jadi ketika kita udah dapet cerita tentang teknologi, luar angkasa, terus robot-robot, yaudah kita cari deh film seputar itu.


    Adakah musisi lokal yang membuat Endah N Rhesa tertarik untuk berkolaborasi?
    Endah: Exactly, we don’t know. Ini adalah pertanyaan yang sampai sekarang gue belum tahu jawabannya apa. Tapi soal siapa yang Endah N Rhesa pengen kolaborasi banget, gue sebenarnya nggak menutup kemungkinan siapapun. Karena kalau misalnya gue sebut nama besar, terus ternyata tiba-tiba ketika sama dia jadi nggak nyaman ya jadinya nggak seru banget. Jadi kalau melihat Endah N Rhesa tampil di atas panggung dan berkolaborasi, itu artinya kami nyaman main sama mereka. Jadi memang gue sama Rhesa selalu begitu, kalau misalnya kita kolaborasi nih, mau nama besarnya siapa juga kalo kita nggak comfortable ya kita nggak mau.

    Rhesa: Pernah waktu itu ada 1-2 nama yang bikin kita tertarik untuk kolaborasi, tapi begitu kita kolaborasi sama mereka kok jadinya nggak seru gitu.

    Endah: Bukan kolaborasi sih waktu itu, tapi tepatnya jamming. Dan waktu itu kita merasa intimidated banget ya.

    Rhesa: Iya, pokoknya nggak seru lah. Abis itu kita mengurungkan mimpi untuk misalnya pengen kolaborasi sama siapa. Kita harus merasa nyaman dulu sama musisi tersebut baru memutuskan kolaborasi.

    Endah: Tapi sejauh ini yang kita kolaborasi memang kita udah comfortable. Jadi kalo kita nggak comfortable, kita biasanya udah say no duluan. Terus terang gua sama Rhesa mungkin agak aneh kalau ngeliat kenapa Endah N Rhesa jarang berkolaborasi sama musisi lain, karena kita memang cari musisi yang comfortable sama kita juga. Mungkin karena kita couple, mereka merasa jadi orang ketiga gitu atau misalnya apa kan nggak semua orang ngerasa comfortable juga. Tapi sejauh ini yang kita kolaborasi kayak Mocca, Gugun Blues Shelter, dan lainnya itu menyenangkan. It’s really fun to collaborate with them.


    Ada rencana tur untuk album ketiga ini?
    Rhesa: Ada sih rencana untuk itu, tapi soal jadi berjalan atau tidaknya masih kita diskusikan.

    Endah: Tapi kita memang pengen banget sih ngadain tur. Udah dibicarakan juga dengan manajer kami. Mudah-mudahan nggak hanya di sekitar Jabodetabek aja, tapi juga ke kota-kota lain.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    threeonspeed.com/search/label/news

    Post a Comment

    Item Reviewed: Endah N Rhesa dan Escape: Akhir Petualangan Shane Harden Rating: 5 Reviewed By: Three On speed
    Scroll to Top