Ekspetasi Tigapagi - Three On Speed Ekspetasi Tigapagi - Three On Speed

728x90 AdSpace

  • Latest News

    Thursday, May 8, 2014

    Ekspetasi Tigapagi

    Oleh Harun Kurnia

    Tigapagi. Jika belum mengenal trio folk asal Bandung ini, sebaiknya telusuri alat selancar di dunia maya dan temukan siapa nama dibalik Tigapagi itu. Mungkin jika dianalogikan kata Tigapagi, yang muncul dibenak adalah waktu dimana gelap yang akan menyambut terang, atau terang yang akan membenamkan sang gelap.

    Kini ketiga pria tersebut bersama dengan Roekmana's Repertoire nya menjadi sebuah kesatuan yang telah menghasilkan banyak pujian dan juga apresiasi. Bukan dari jumlah penjualan, namun dari karya yang mereka tuangkan ke dalam debut album mereka tersebut, serta bagaimana mereka bisa mengemas cerita dengan begitu menariknya. 

    Sebut saja Best Album tahun 2013 yang disematkan kepada mereka dari Majalah Rolling Stone Indonesia.Tidak hanya itu, mereka kembali menambah penghargaan dengan dideklarasikannya Tigapagi sebagai Rookies Of The Year pada tahun 2014 oleh Majalah Rolling Stone Indonesia .

    Lantas bagaimana mereka menghadapi pujian serta ekspetasi, yang mungkin kebanyakan orang akan membesarkan kepala mereka setelah menerima sanjungan tersebut?

    Berbincang hangat  dengan Sigit Agung Pramudita paska permainannya di kawasan Tangerang, Three On Speed mencoba ungkapkan kegundahan Tigapagi dibalik kesuksesan mereka serta menelaah kembali Roemana's Repertoire. Obrolan pun dilanjutkan melalui sebuah chat room.

    Sekarang mempersiapkan apa nih tahun ini?
    Tigapagi sih masih seputar Roemana's Repertoire. Video atau single kedua mungkin akan keluar tahun ini juga.

    Kapan tuh kira-kira dan single apa nih ?
    Nah, itu juga belum bisa ditentuin sekarang hehehe. Masih menimbang-nimbang apa yang kira-kira cocok.

    Sebenarnya karya seperti apa yang kalian ingin sajikan kepada khalayak ?
    Sebenarnya sih kita (Tigapagi) lebih ingin berbagi sama khalayak. Berbagai cerita, meskipun akhirnya khalayak punya interpretasi masing-masing terhadap karya Tigapagi, dan kita lebih suka begitu adanya.

    Karya Roekmana's Repertoire setting tahun berapa nih ?
    60-an kan ceritanya.

    Nah, kok bisa menciptakan suasana seperti itu dengan begitu baik ? Bagaimana caranya bisa meresapi jiwa Roekmana hingga dapat menciptakan album ini ?
    Sebenarnya iklim Indonesia era 60-an bisa dibilang cukup mencekam. Kita bisa mengetahui itu lewat berbagai literatur sejarah. Nah kita coba menyerap itu, lewat diskusi, baik diskusi secara musikal, hingga diskusi penggarapan kemasan visual juga merupakan buah pikir bersama. Kebersamaan lah pokoknya. Puji syukur, Alhamdulillah, akhirnya selesai juga Roekmana's Repertoire tahun lalu.

    Ketika membuat karya-karya tersebut sebenarnya apa yang terlintas di otak kalian ?
    Wah bisa jadi berbagai macam hal. Kalau saya pribadi sih, nggak bisa sebutin satu-satu, saking banyaknya, tapi banyaknya kontemplasi-kontemplasi sih. Kematian misalnya.

    Apa ada hal yang menjadi titik balik kalian saat proses lima tahun dalam menciptakan Roekmana's Repertoire ?
    Ya, titik baliknya mungkin bukan saat kita mengerjakan album ini, tetapi jauh sebelum itu. Mungkin saat kita memutuskan untuk mengerjakan album ini dengan tingkat kesulitan, kendala waktu yang sedemikian rupa, serta berbagai macam resikonya.

    Roekmana merupakan sosok guru yang mempunyai andil besar dalam album ini. Sebenarnya guru dimata Anda tuh seperti apa ?
    Kalau orang Sunda biasa menyebut guru dalam akronim. Guru, digugu jeung ditiru (dipatuhi dan ditiru). Memang sebesar itu peran guru. Tak hanya dipatuhi, namun kelak akan menjadi contoh. Guru punya peran yang besar terhadap anak negeri.

    Yang saya dengar pada album Roekmana's Repertoire ada nuansa Sundanya. Bagaimana pandangan kalian mengenai musik tradisional ?
    Musik tradisi merupakan identitas primordial kita. Ketika Ia punah, kita juga punah. Sama seperti bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu ingat akan sejarahnya.

    Kalian banyak berkolaborasi dengan nama-nama yang sudah tidak asing lagi, apakah kalian tidak pede dengan kemampuan kalian ?
    Kita memang lebih menyukai proses membuat musik, oleh karena itu Tigapagi lebih terdengar music based, daripada vocal based. Para biduan dan biduanita tamu yang mengisi lagu-lagu Roekmana's Repertoire memang sudah direncanakan mengisi lagu-lagu tersebut dari jauh hari.

    Selain sebagai produser, bagi kalian sosok Ade Paloh tuh seperti apa ?
    Sahabat atau kerabat dekat. Kekerabatan kami cukup lekat. Pada awalnya sekitar tahun 2007 kalau tidak salah, Ganesha Muslim (manager dan sahabat kami juga) berkenalan dengan Ade Paloh, barulah setahun berikutnya, kami bertemu dan dari situ kami merasakan banyak kecocokan dari berbagai macam hal dan Roemana Repertoire pun mulai digarap bersama.

    Jika ada yang bilang debut album kalian menjual nama Ade Paloh selaku frontman Sore, bagaimana reaksi kalian ?
    Ada banyak frontman yang terlibat, ada Ajie Gergaji, Cholil Mahmud, Ida Ayu M P Sarasvati, Ade Firza Paloh, Aghi Narottama, sampai Fitria Ramdhani hehehe. Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan banyak frontman. Disana pula kami merasa mereka pernah hidup di kehidupan kami.

    Risih nggak jika ada tanggapan seperti itu ?
    Tidak sama sekali. Lagi pula kami merasa tidak menjual apapun. Roekmana's Repertoire kemari benar-benar sebuah media berbakti, media tukar ide, media berbagi dan silahturahmi. hehehe.

    Roekmana's Repertoire telah mendapatkan best album 2013 dari majalah Rolling Stone Indonesia, menurut Anda memang pantaskah itu ?
    Wilayah kami cuma bisa mensyukuri sebenarnya. Atas kelahiran album itu saja kami sudah sangat bersyukur. Tanpa dorongan keras dari orang-orang di sekeliling Tigapagi, jangankan mendapat apresiasi, lahir saja mungkin mustahil.

    Ya. jadi wilayah kami cuma bisa mensyukuri dan berterima kasih kepada Sang Pencipta, dan kawan-kawan yang terus mendukung kami. Klise memang, tapi seperti itu adanya.

    Nyangka nggak sih ?
    Ya ngga lah.. Orang waktu itu saya lagi di Yogyakarta ada kerjaan, ditelepon kawan mengenai hal ini, kaget lumayan.

    Bangga nggak?
    Karena saya terlibat dalam proses pembuatan album tersebut dari nol hingga proses "persalinan", saya sih lebih menyebutnya "bersyukur", hehe.

    Sudah puaskah dengan ekspetasi seperti ini ?
    Wah, saya berusaha keras menjauhi berbagai macam ekspetasi. Ekspetasi bisa sangat membahayakan untuk mentalitas kami, sedangkan "harapan" sangat berbeda dengan "ekspetasi". Harapan saya, kami(Tigapagi), akan terus bisa berkarya dan kawan-kawan terus mendoakan kami. Karena cuma doa yang bisa menggerakan kami lewat Tuhan, hehe.

    Selain kesan positif yang diberikan khalayak pasti ada tanggapan negatif, jika ada tanggapan seperti ini "Album ini mah biasa aja, nggak pantas dapat best album", reaksi kalian?
    Mungkin pendapat mereka juga benar dan masuk akal bagi mereka, dan kami benar-benar menghargai aspirasi apapun. Perbedaanlah yang membuat seisi bumi ini indah bukan?

    Kini setelah best album kalian melahap Rookies of The year dari Rolling Stone Indonesia. Bagaimana mengatasi kesombongan yang ada ?
    Yah, predikat-predikat itu sebenarnya kan ujian juga buat kita. Tak ada yang berpengaruh signifikan di kehidupan kita masing-masing, semua rutinitas, tekanan pekerjaan dari atasan, harga kebutuhan pokok yang tak menentu, hiruk-piruk kota, jam kerja, semuanya terlalu menggerogoti, sehingga kita terlalu letih dan jelata untuk mengenal kata sombong. Dilindas kereta api, atau ditembak mati dikepala, mati juga. Kita semua ini kecil toh di mata Tuhan.

    Apakah ada rasa ketakutan ketika mendapatkan banyaknya pujian seperti ini ?
    Kadang-kadang. Pujian lebih menyesatkan daripada cacian. Cacian itu jujur. Pujian itu punya dua kepala. Tapi kita selalu pasrah sih. Ikhlas saja. Toh yang dipuji atau dicaci juga karyanya. Kita sudah melepas karya itu jadi milik publik. Sepenuhnya hak publik juga untuk memperlakukan karya itu seperti apa. Sudah tidak ada lagi kepemilikan kita terhadap karya itu.

    Artian dalam "sudah tidak ada kepemilikkan kalian". Apakah artiannya menikmati karya tersebut? Bukankah itu jerih payah kalian?
    Jika dianalogikan, Thomas Alva Edison menemukan lampu Ia menikmati proses penciptaannya, lampu itu sudah digariskan Tuhan lahir melalui Thomas, hingga kini semua orang memiliki lampu. Kami percaya bahwa karya seni sangat Illahiah. Kita cuma mediator saja. Jadi semuanya milik tuhan.

    Ada kutipan yang menarik yang terlontar dari Eko yang menyatakan jika sudah ada materi-materi baru yang siap digodok lagi. Apakah itu benar?
    Ya.. Sebulan lalu saya lagi iseng ke tempat Eko. Di situ kita ngobrol dan muncul beberapa ide dan materi-materi buat album berikutnya. Cuma perlu pengkajian lebih dalam. Paling kita lihat lah beberapa waktu ke depan ada apa. hehehe.

    Apakah masih ingin bekerja sama dengan nama yang sama (Ade Paloh)?
    Pasti, cuma bisa jadi album berikutnya, bukan nama tersebut yang jadi produsernya. Kita gemar bereksperimen. Kita ingin coba produser yang mungkin khazanah musiknya berbeda dari kami, atau produser sebelumnya, jadi bisa jadi hasilnya tidak seperti yang kami bayangkan nantinya.

    Siapa tuh kira-kira?
    Masih dalam proses pertimbangan. hehehe.

    Apa nih arti ungkapan "produser yang mungkin khazanah musiknya"?
    Produser yang refrensi musiknya beda. Berbeda dengan refrensi produser kami sebelumnya, berbeda refrensi dengan kami.

    Dalam wacana artikel kalian di Majalah Rolling Stone edisi bulan Mei, terdapat ungkapan kalian akan bubar setelah rilis album ketiga?
    Anggaplah itu 20 tahun dari sekarang. Usia kami sudah kepala lima. Kami hanya punya paling lama 20 tahun menyiapkan bekal untuk berpulang.

    Tanpa disadari kalian mempunyai beban yang berat, dimana debut album kalian menuai kesuksesan, pastinya setiap orang akan mempunyai ekspetasi lebih terhadap karya kalian berikutnya?
    Jalani saja. Semua ada di tangan Tuhan. Kami kembalikan semuanya kesana, nggak bakal berat kita menjalaninya seperti itu. Kalau berbicara apa yang ada di depan, semuanya hanya rencana. Usia ada yang mengatur. hehehe.

    Apakah nanti di album mendatang kalian akan bermeditasi lama lagi untuk menghasilkan karya yang memuaskan?
    Bisa jadi. Makanya saya bilang, andai kita dikasih usia buat sampai album ketiga, maka bisa jadi itu 20 tahun lagi. hehehehehe.

    Kok lama sekali proses pengerjaannya apa sih yang kalian lakukan sebenarnya? Apakah setiap pengerjaan satu album harus memakan waktu sekitar 5-10 tahun?
    Memang tidak harus, tapi setelah melihat perjalan album pertama, kita memprediksi bahwa setidaknya album kedua akan memakan waktu sama dengan album pertama. Syukur-syukur bisa lebih cepat. hehehe.

    Berarti jika lebih cepat, batal bubar di umur album ketiga dong?
    Bubar bukan berarti bubar ikatannya. Persaudaraan kita kan semenjak kecil. Bukan bubar sih. Berhenti bikin album mungkin tepatnya.

    Berhenti bermusik juga kah? Apakah lantaran salah satu personil yang sangat minim waktunya, sehingga memutuskan hal ini?
    Main musik sih jalan terus. Di rumah tapi, mungkin. Lantaran pasti sudah pada tua, hehehhe. Ngga lah, waktu kita selalu ada kok buat Tigapagi, sudah seperti rumah mungkin.

    Apakah kalian akan full album tanpa adanya suara latar asli Tigapagi, akankah full dari kolaborator?
    Kita lihat nanti. Betul-betul belum bisa diprediksi. hehehehe
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    threeonspeed.com/search/label/news

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ekspetasi Tigapagi Rating: 5 Reviewed By: Three On speed
    Scroll to Top