Three On Speed Favourite Tracks From September - Three On Speed Three On Speed Favourite Tracks From September - Three On Speed

728x90 AdSpace

  • Latest News

    Monday, October 13, 2014

    Three On Speed Favourite Tracks From September



    Memamerkan selera musik adalah salah satu hal esensial dalam merayakan keintiman musik. Dengan bantuan internet, melakukannya bahkan menjadi jauh lebih mudah. Cukup lewat hashtag #nowplaying, memaksimalkan fitur status musik di jejaring sosial Path atau menyusun mixtape di situs 8tracks. Meskipun bagi sekelompok orang, melakukan sleeveface atau mengoleksi kaos band yang tergolong obscure masih jauh lebih pretensius.

    Kami memiliki cara tersendiri untuk berbagi musik kesukaan kami dan tentu saja untuk alasan itulah kolom ini dibuat. Lewat kolom ini, setiap bulannya kami akan menampilkan sejumlah lagu yang terus-menerus memborbardir speaker kami selama sebulan terakhir. Lagu-lagu yang disertakan di sini adalah lagu yang dirilis selama September dan dapat didengar secara online, entah itu dalam bentuk single ataupun video.

    September sendiri merupakan bulan yang cukup sibuk menurut pantauan kami. Di awal bulan, Karen O menerbitkan “diary patah hati” yang berwujud album Crush Songs. Tiga hari berselang, giliran Interpol yang mengambil alih perhatian dengan El Pintor. Jangan lupakan pula kolaborasi sinting antara Mastodon dan Gibby Haynes dalam single yang dirilis khusus untuk program Adult Swim. Di pertengahan bulan, Julian Casablancas bersama The Voidz meluncurkan Tyranny yang seolah menuntaskan obsesi tanggung Casablancas di album terakhir The Strokes. Yang paling pintar mencuri perhatian tentu saja Thom Yorke yang secara tiba-tiba merilis album solo Tomorrow’s Modern Boxes dengan cara yang mengejutkan pula: lewat BitTorrent!

    Dari skena lokal tak ada yang lebih kontroversial dari aksi musisi senior Susilo Bambang Yudhoyono. Namun sayangnya, aksi kontroversial pria yang telah menelurkan lima album ini tidak ada hubungannya dengan musik sama sekali, melainkan soal aktivitas politiknya. Mungkinkah ini strategi demi mendongkrak karir bermusiknya? Entahlah. Yang pasti, dari segala highlight yang disebutkan di atas tak ada yang mampu menembus tempat spesial di telinga kami.
    -Argo Selig Saputro


    Exodus – ‘Salt The Wound’
    Asal: California
    Genre: Thrash metal

    ‘Salt The Wound’ bisa jadi adalah ajang jalinan kasih paling garang di bulan September. Bayangkan saja, setelah 31 tahun berpisah kini Kirk Hammett dipertemukan kembali dengan band pertamanya, Exodus untuk menyumbangkan ­riff-riff maut miliknya. Hasilnya pun tak diragukan lagi. Duet solo gitar Kirk Hammett dan Gary Holt terdengar sangat brutal, agresif dan penuh dendam. Hammett dan Holt seolah beradu cepat siapa yang lebih dulu mampu membunuh dengan solo gitarnya. Lagu ini memang tak sekuat karya-karya klasik Exodus dan secara garis besar tidak menawarkan sesuatu yang baru. Rhythm section dalam lagu ini bahkan cenderung monoton. Meskipun begitu, ‘Salt The Wound’ masih mampu menegaskan bahwa thrash metal yang baik berasal dari generasi 80an.
    -Argo Selig Saputro





    Elephant Kind – ‘Oh Well’
    Asal: Jakarta
    Genre: Indie rock

    ‘Oh Well’ nomor baru milik Elephant Kind yang begitu nyaman didengarkan. Single ini secara resmi memang dirilis pada 1 Oktober, namun video lyric lagu ini telah disebar lebih dulu tanggal 30 September. Dengan itu sudah tiga nomor yang telah mereka rilis dan menjadi bukti kesiapan mereka untuk merilis EP mereka. Band beranggotakan Bam Mastro, Dewa Pratama, Bayu Adisapoetra dan John Paul Patton ini bisa jadi sebagai salah satu pendatang baru yang patut diperhitungkan dengan apa yang mereka sajikan dari musik mereka. Terlepas dari beberapa personil mereka yang telah sukses bersama band mereka, aroma dari Elephant Kind sendiri dapat dibilang punya aura tersendiri. Indie rock yang begitu sederhana tersirat pada ‘Oh Well’.
    -Harun Kurnia





    Mono – Where We Begin
    Asal: Tokyo
    Genre: Post-rock

    Selalu ada ruang eksperimen baru bagi band yang telah menginjak usia belasan tahun. Mono tampaknya sadar betul akan hal itu. Tak tanggung-tanggung, mereka berencana merilis album kembar konseptual berjudul The Last Dawn dan Rays of Darkness yang secara karakter saling membelakangi satu sama lain. The Last Dawn akan bernuansa lebih terang, sedangkan Rays of Darkness mengambil peran yang lebih gelap. Terdengar cukup ambisius memang. Apalagi jika ditilik kembali, sebenarnya karya-karya Mono terdahulu telah cukup memainkan peran-peran tersebut. Namun rupanya Mono menginginkan lebih dan hal itu langsung dibuktikan lewat ‘Where We Begin’, single yang mewakili The Last Dawn. Lagu berdurasi tujuh menit ini seolah menampilkan aura-aura tersembunyi Mono yang tak terdengar di album-album sebelumnya: tenang sekaligus sederhana. Single ini memang tak sekompleks materi-materi mereka sebelumnya, namun dibalik kesederhanaan ini mereka mampu menciptakan atmosfer megah dan elegan dengan letupan shoegaze yang orgasmik menjelang pertengahan lagu. ‘Where We Begin’ jelas adalah prolog sekaligus representasi sempurna dari sisi terang Mono.
    -Argo Selig Saputro





    Taring! – ‘Kata-Kata Belum Binasa’
    Asal: Bandung
    Genre: Hardcore

    Taring! Ya, seperti nama mereka yang tajam, lagu ‘Kata-kata Belum Binasa' menjadi tanda ketajaman debut album mereka, Nazar Palagan. Lugas tanpa kompromi, menjadi dasar untuk menurunkan setiap kata-kata yang begitu provokatif. Aroma hardcore klasik begitu terasa pada lagu yang mengajak kita agar tidak berhenti mencari keadilan di bumi pertiwi ini. Lagu yang dipersembahkan untuk mediang Widji Thukul, yang dihapus keberadaannya oleh rezim Orde Baru dan belum ditemukan hingga saat ini. “Anji*g” menjadi kata penutup dari gumpalan emosi Taring!
    -Harun Kurnia





    Baptists – ‘Calling’
    Asal: Vancouver
    Genre: hardcore/d-beat/crust

    Jika ditanya siapa band yang paling layak disebut sebagai “the next Converge” saat ini, maka dengan senang hati saya akan menunjuk Baptists. Semenjak merilis debut album Bushcraft pada tahun lalu, Baptists telah menjadi perbincangan hangat di skena metal dan disebut-sebut sebagai rising star paling bersinar dari Southern Lord Records berkat nuansa chaos yang adiktif di album tersebut. Tentunya hal ini juga tak lepas dari peran tangan ajaib gitaris sekaligus mastermind Converge, Kurt Ballou yang bertindak sebagai produser di album Bushcraft. Kali ini, Baptists kembali melanjutkan kerjasama mereka dengan Ballou untuk penggarapan album Bloodmines yang rilis pada 14 Oktober ini. Dan lewat single ‘Calling’, Baptists memberikan alarm bahwa teror bisa datang dari sudut manapun. Di lagu ini, mereka memang masih mengandalkan riff-riff berdaya ledak tinggi, namun sumbu ledak utama lagu ini terletak pada drum work Nick Yacyshyn. Mengandalkan skill drum Yacyshyn yang di atas manusia normal, Baptists melakukan eksplorasi seperti yang pernah mereka lakukan pada lagu ‘Still Melt’ di album Bushcraft hingga melahirkan sound yang lebih berat dan tak kalah jahat. Jadi, jika anda beranggapan bahwa Bloodmines hanya akan jadi sekadar Bushcraft jilid dua, maka bersiap-siaplah karena Baptists masih bisa lebih gila dari itu.
    -Argo Selig Saputro

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    threeonspeed.com/search/label/news

    Post a Comment

    Item Reviewed: Three On Speed Favourite Tracks From September Rating: 5 Reviewed By: Three On speed
    Scroll to Top